Hobi Tapi Mahal : Belajar Main Ski di Gunung Erciyes.


Ini bakal jadi thread yang sedikit panjang. Sebenarnya aku hanya ingin meliput soal travelling dan ski, tapi kemudian aku ingin mengabadikan momen juga. Jadi kalau kalian ingin baca soal info permainan ski atau kayak di Erciyes Kayseri ini secara umum, baca setengah juga cukup kok, InşaAllah. Terimakasih sudah mau membaca ...

--

Bismillah.

Memasuki musim dingin kedua di Turki, pikiranku sempat mengawang panjang soal libur musim dingin. Liburan di fakultasku, fakultas komunikasi, akan berlangsung sekitar sebulan dan harus aku manfaatkan dengan sangat baik. Aku belum punya rencana ke luar kota, yang ada di kepalaku saat menjelang libur kemarin cuma belajar kayak (ski es) di Gunung Erciyes. Tahun lalu aku dua kali ke Erciyes tapi jalan-jalan doang, ga ngapa-ngapain.

Erciyes merupakan salah satu gunung tertinggi di Turki yang kemudian dipakai menjadi nama universitas tempat aku sekolah sekarang. İlçe (aku ga tau bagaimana menjelaskannya dalam Bahasa Indonesia, mungkin distrik atau kecamatan?) tempatku tinggal berada di kaki Gunung Erciyes--yang puncaknya hampir selalu bersalju sepanjang tahun. Itulah alasan mengapa Kayseri lebih sejuk dan terlalu dingin dibanding kota-kota lainnya, terutama di musim dingin seperti ini. Trek Erciyes sendiri memang terkenal dan beberapa kali dipakai untuk pertandingan ski atau snowboard di level Eropa. Hanya di gunung ini aku bisa melihat Kayseri berisi bule yang bicara Bahasa Inggris.

Lepas dari cuaca dinginnya yang menyentuh -17°C, aku bersyukur bisa tinggal di Kayseri. Setidaknya aku tidak perlu jauh pergi ke kota lain untuk bisa belajar permainan di atas es. Memang begitu sih, sampai ada istilah "belum jadi anak Kayseri kalau main ski aja ga bisa." Terkesan songong memang, namun begitulah beban sosial makhluk pegunungan kalau gaulnya masih sama orang Indo.

Di musim dingin seperti ini, akses menuju Erciyes lebih mudah. Dari pusat kota, kita bisa memilih untuk naik bis belediye (pemerintah) biasa di akhir pekan. Harganya normal sekali tap kartu transportasi. Kalau di hari biasa, kita bisa pakai servis menuju Develi dengan biaya 7.5 TL sekali naik. Perjalanannya ga terlalu jauh, mungkin sekitar 30-45 menit untuk bisa sampai ke atas.

Pada Rabu 23 Januari kemarin, setelah sekian macam drama "jadi kita berangkat kapan sama siapa" berhari-hari, akhirnya aku dan beberapa anak Indo-Kayseri bisa jalan bareng untuk main ski. Dari Seyyid Burhaneddin, kami berangkat berenam naik servis ke arah Develi. Setelah itu kami turun di Erciyes Kayak Merkezi.

Waktu berangkat kami memang hanya berenam, tapi ketika sudah sampai atas, kami bertemu banyak orang Indo dan satu anak Thailand Patani. Intinya hari itu kami ramai sekali. Padahal yang niat mau belajar hanya aku, Naila, dan Adzkia. Lalu menjelang siang, datang Syahida dan temanya dari kota lain, Fira. Kalau aku tidak salah hitung, kami serombongan anak melayu sekitar 17 orang. Jadi kami berlima belajar, sisanya yang udah bisa main ski/snowboard jadi tim hore-hore; ada yang ngajar dan jadi guru dadakan, ada yang cuma mengawasi, ada yang bikin video, ada juga yang hanya ketawa-ketawa bahagia.

Kalau mau belajar, kami disarankan datang di hari biasa, kalau akhir pekan Erciyes bakal penuh banget. Hari Minggu sebelumnya juga aku sempat ke Erciyes dari acara Winter Camp PPI Turki (waktu itu PPI Kayseri jadi tuan rumah sekaligus panitia), dan penuhnya membuatku hanya berdiam di dalam kafe sambil ngobrol sampai sore.

Tapi sayangnya, hari Rabu kemarin cuacanya lagi kurang mendukung, berangin kencang. Waktu kami lihat trek ski pun agak berkabut. Padahal cukup cerah dan ga dingin. Selanjutnya, kami memutuskan sewa papan ski. Harga sewanya ini sih yang agak beban untuk mahasiswi biasa sepertiku, 50 TL untuk kayak dan 15 TL untuk helm, sedangkan tongkat ski bisa didapat secara gratis. Kalau mau main snowboard harga sewanya juga sama. Untuk harga teleferik (kereta gantung atau gondola atau ski train), harganya lumayan mahal. Aku gatau berapa harga pasnya, tapi semakin banyak semakin murah. Karena kami banyakkan dan kami yakin pasti habis, kami beli yang isi 50, harganya 150 TL. Setauku ada yang 30, harganya 130 TL, ada juga pilihan yang lebih sedikit namun lebih mahal.

Aku pakai rok. Bye.

Ohiya aku ingin cerita sedikit, jadi awalnya aku ingin belajar snowboard. Alasannya klasik; kelihatan lebih keren wahaha. Aku bilang langsung lah keinginan aku untuk bisa mastering snowboard ke kating yang udah lama main di permainan es semacam ini, Bang Hanif. Tapi Bang Hanif menyarankan untuk belajar ski lebih dulu. Selain memang ngajarin ski lebih mudah (Abangnya memang punya papan ski dan bakal main ski, jadi ga lucu kalau satu menghadap samping sedangkan satunya menghadap depan), ada hal-hal di snowboard yang susah dijelaskan secara teori. Intinya Bang Hanif bilang, kalau main snowboard kita harus punya dasar permainan keseimbangan yang baik. Jadi aku nurut aja belajar main ski dulu.

Sebelumnya, aku udah pernah main ice skating (yang ngajar Bang Hanif juga). Tiga kali main dalam rentang satu tahun, yang ketiga aku udah bisa meluncur meski jatuh 10 kali. Jadi acuan dan ekspetasi aku sebelum main ski ini adalah dasar keseimbangan ice skating aku yang masih payah. Semua kesan yang aku tulis di sini adalah perbandingan atas ilmu ice skating aku. Mungkin kalau ada kesempatan main lagi, aku bakal cerita pengalaman serunya ice skating-an

Pelajaran dimulai. Sebelum naik, kami diajari  pasang sepatu ke papan ski. Itu juga tekniknya berseni cuy. Papan ski pun harus diletakkan ke arah samping--tidak boleh ke arah naik gunung atau turun gunung. Kalau lihat ketika dicontohin, kelihatannya mudah, tapi ternyata susah. Sepatu ski itu berat dan lumayan bikin sakit tulang kering. Aku harus bulak-balik pasang-lepas sepatu ke ski berkali-kali untuk bisa paham logika si sepatu dan ski ini. Setalah itu, kami diajari cara jatuh yang baik agat bangkitnya bisa mudah. Sejujurnya aku ingin menjelaskan detailnya, tapi bingung nulisnya.

Di Erciyes Kayak Merkezi, ada dua teleferik, kalau dari arah pintu masuk, ada yang sebelah kiri dan sebelah kanan. Sebelah kiri lebih rendah ketinggiannya daripada yang sebelah kanan, biasanya dipakai untuk anak kecil atau yang baru belajar. Yang kanan ini ada beberapa pemberhentian untuk level ketinggian dan kesulitan yang bermacam-macam.

Kami disarankan buat langsung belajar di tempat yang agak lebih tinggi, di pemberhentian pertama. Treknya lumayan jauh jadi kami tidak akan kelelahan turun-naik, alasan lainnya juga karena memang guru-gurunya pro dan berani pegang dan jaga dari ketinggian lumayan.

Pertama, Adzkia dan semua orang naik, gurunya Bang Hanif. Aku dan Naila nunggu di bawah, Kak Dayu belum naik juga. Kami tidak mau banyak bergerak, takut lelah, aku masih sibuk belajar pasang lepas sepatu. Setelah lumayan lama menunggu, yang lain  turun dan akhirnya ngajak aku dan Naila naik juga. Lalu tidak lama kemudian, Bang Hanif turun bareng Adzki. Kami ramai-ramai naik, kali ini giliran Adzki yang break dulu.

Aku ingin menjelaskan detail proses ajar-mengajar ini dilaksanakan.

Jadi, kami kan naik teleferik, setelah sampai atas, turun dari kapsul, kami udah ada di ketinggian dan kabut semua. Udah serasa di atas awan. Oke skip. Nah, sebenarnya, tongkat ski itu ga terlalu berguna kalau tujuannya hanya iseng main biasa. Berguna sih kalau belajar, kayak misal berdiri setelah jatuh, lepas sepatu dari papan ski, jalan, atau nambah kepercayaan diri. Kami pribadi hanyahanya  tongkat ski ini sebagai media berpegangan. Pertama, posisi kami (yang diajari) meluncur ke bawah, nah guru kami ini berdiri di depan menghadap kami, jalannya mundur guna untuk menahan laju kami (kebayang ga sih seberapa masternya). Tongkat ski (boleh pakai satu boleh dua) dipegang di perut kami di satu sisi dan ngarah ke perut mereka di sisi lainnya. Selama meluncur dengan posisi beginilah kami diajari lurus, belok, rem, jatuh dan lain-lain. Yang posisinya menghadap depan yang bakal mengarahkan tiap ada orang.

Dasar ilmunya hampir semua dari kami sama-sama dipegang Bang Hanif. Semacam kaki dan papan ski harus bisa membentuk huruf A dengan baik. Kalau papan kita lurus ke depan, lajunya akan semakin cepat. Kalau mau belok kanan, kaki yang kiri lebih maju, begitu juga sebaliknya. Tapi setelah dasar kepegang, hampir semua yang udah jago berani megang amatiran. Awalnya aku dipegang Bang Hanif, Naila sama Zia. Yang lain cuma rame aja ketawa-ketawa, balapan. Bang Malik buat video pake kamera, merekam kami semua (mantap kan orang-orang). Tapi ternyata aku bisa belajar meluncur dan belok dengan cepat, aku terharu. Jadi baru beberapa puluh meter, Bang Hanif langsung minta tukeran sama Zia, setelahnya aku dipegang Zia.

Waktu sama Zia, kami sempat nyasar dan ngelewatin batas aman. Perlu lepas ski dulu untuk jalan dan mencapai jalan yang benar. Turun terus, kemudian aku balik sama Bang Hanif lagi sampai ke bawah. Dan kami semua naik teleferik lagi wahaha. Kali ini giliran Adzkia dan Syahida yang naik, Naila istirahat.

"Ga sesusah yang aku bayangin, Bang," aku ngadu ke Bang Hanif.

"Susaaah, kebetulan aja yang ngajarinnya jago."

Aku hehe-in aja lalu bilang makasih.

Seru sih, tapi serius, kalau dibanding sama ice skating, aku merasa lebih baik main ski. Aku lebih deg-degan main ice skating--mungkin itu poin penting aku bisa cepat dilepas di permainan ski. Di ski juga aku bisa belajar mengendalikan belok kanan kiri dengan cepat (di ice skating aku cuma ketawa-ketawa-jatuh, kesulitan tiap belok). Hanya rem yang masih suka loss parah, kadang kaki aku susah sinkron pas ngerem dan malah belok, terus panik, lalu memutuskan untuk jatuh. Beban main ski itu semua fokusnya di kaki, kuda-kuda juga harus baik, dari pinggang sampai telapak kaki itu ototnya kepakai semua. Mungkin karena aku terlalu ringan, aku ga punya energi buat berhenti dengan baik. Haha.

Di kali kedua naik, aku dijaga Zia sampai turun ke bawah. Bang Hanif sempet ngingetin aku untuk fokus. Fokus aku memang berantakan banget. Kalau diajak ngobrol dikit aja, aku bakal lepas dari permainan terus jatuh, ini juga yang terjadi ketika aku main ice skating. Di kali kedua ini beban mental aku masih sama, susah rem, masih kesel sendiri tiap mau rem dan akhirnya jatuh. Zia udah lepas aku. Dia meluncur duluan sampe puluhan meter, terus aku harus berhasil berhenti di tempat dia berhenti. Gitu terus sampe bawah.

Aku naik lagi untuk ketiga kali dan masih dipegang Zia. Tapi akhirnya aku dituker lagi sama Naila (karena Zia ngeliat Naila ga berdiri-berdiri pas jatuh wkwk), jadi aku dipegang Dhiya. Aku bilang ke Dhiya, aku udah bisa, tinggal di bagian rem doang, terus Dhiya bilang, "Yang perlu dipahami, kita ga bisa ngerem kalau kecapean."

Aku langsung ngeh gitu dapat pencerahan, "Oooh gitu."

Dan akhirnya ... Alhamdulillah, berhasil ngerem meski masih payah. Kalau cara Zia ngajar tadi turun lebih dulu kan, kalau Dhiya ini jagainnya dari samping dan belakang. Aku yang disuruh turun duluan, jadi kayak merasa meluncur sendiri.

Setelahnya aku break solat dzuhur sampai ashar. Ketika yang lain lanjut lagi, aku duduk di kafe bareng beberapa orang. Ada Syahida juga, terus aku sadar ada memar biru di pipi dia, "Pipi kamu kenapa Cid?"

"Kena papan skinya Bang Malik."

Aku ingin ketawa tapi kasian.

Menurut korban, kronologinya Bang Malik yang jagain dia. Karena Bang Malik belum biasa ngajar, waktu Syahida bilang kanan, Abangnya malah ke kiri (karena abangnya jalan mundur kan) dan nabrak orang. Awalnya ingin menghindari tabrakan antar papan, tapi papannya malah nampar pipi Syahida. Ga kebayang sesakit apa :')

Cuaca di luar semakin buruk, dinginnya semakin nusuk. Setiap jalan biasa pun aku banyak sakit kaki karena beban sepatu, intinya aku kelelahan. Aku mikir apakah aku selesai karena aku punya trip ke Istanbul hari Jumat. Tapi sayang masih ada waktu sewa sampai maghrib. Jadi setelah ngemil kentang goreng sebentar, aku mencoba untuk melupakanmu lelah, keluar, dan nunggu mereka turun semua untuk naik bareng lagi.

Untuk keempat kali ini, mungkin jadi permainan yang tidak pernah aku lupakan. Jadi kondisinya di situ aku, Naila, dan Adzkia udah dilepas semua. Tongkat ski cuma ada dua pasang, satu pasang di Naila dan satu pasang di Adzkia. Aku cuma haha-hihi aja sosoan bisa tanpa tongkat. Gatau aja semua orang kalau aku deg-degan.

Area paling atas itu langsung curam, Zia udah wanti-wanti, "Ziz, liat, ini awalnya udah curam, A-nya kuatin dari awal. Oke?"

Dan aku diam, meyakinkan diri semua akan baik-baik saja.

Dengan mengucapkan bismillah, aku bisa ngikutin yang lain pas awal. Bisa ngerem tiap mereka berhenti meski nabrak-nabrak dikit, bisa ikut nungguin juga. Sampai akhirnya sekali lagi, aku jatuh guling-guling, dan posisinya kebanting kepala duluan. Baru saat itu aku nyadar fungsi helm. Dan ini adalah jatuh paling parah di hari itu.

Papan ski aku lepas dari sepatu, aku kehabisan tenaga total, bahkan pasang sepatu ke ski aja aku merasa tidak sanggup. Aku kedinginan dan tidak bisa bergerak. Semua orang udah lewat dan arahnya di bawah aku, dari awal aku jatuh hampir selalu bisa bangkit sendiri. Tapi kali itu aku beneran ngga ada energi. Alhamdulillah Yakub, anak baru di SMA IHL, lewat lalu ngeliatin aku dulu gitu sampai merasa yakin aku perlu bantuan. Padahal aku udah ga bisa ngapa-ngapain, kedinginan, hanya berdiri doang dengan usaha masang sepatu ke ski yang sia-sia. Setelah Yakub selesai bantuin pasang kunci di sepatu, Adzkia lewat. Ternyata tadi itu anak nyasar dulu woy, padahal meluncur duluan--sampai Bang Dony merasa perlu ngejar. Adzkia sempet nawarin tongkat ke aku dan aku bilang aku gapapa kok sambil tersenyum manis. Lalu akhirnya aku bisa jalan lancar sampai bawah. Drama banget emang hidup aku, maaf ya semuanya.

Akhirnya udah mau maghrib, kami selesai. Beberapa anak cowok ada yang ngulang sekali lagi, awalnya aku mau ikut tapi aku kelelahan--bahkan jalan pun aku hanya bisa seret papan ski. Aku kembaliin papan bareng Hibo, kemudian naik ke kafe dan gabung sama cewek-cewek lainnya. Ngeteh dan ngemil cantik sampai maghrib.

"Gimana Azizah main ski? Mau main lagi?" Kak Dayu tanya.

"Iyalah," aku auto jawab begitu ga pakai mikir. Fira ditanya gitu geleng, ga mau lagi dia. Mungkin deg-degannya ga bisa dijelaskan.

Niat awalnya kami mau ngejar bis belediye biasa jam 6, biar murah, tapi ketinggalan. Jadi kami yang ketinggalan bis belediye foto-foto dulu sebelum ke tepi jalan nunggu servis dari Develi. Anak-anak IHL mencoba oto-stop (sistem yang berhentiin mobil lewat pakai jempol gitu) dan langsung berhasil. Kami yang mahasiswa-mahasiswa ini syok liatnya dan ikutan nyoba, tapi dilewat melulu, keburu servis Develi-nya datang.

Sumber : dokumen Naila

Pulangnya, aku sempat ngobrol banyak sama Naila betapa kami senangnya hari itu. Kami berdua sama-sama penasaran apakah kelancaran bermain ski bisa punya pengaruh baik ke main ice skating (kami merasa permainan ini pengaruhnya banyak banget ke main ski). Kami juga bersyukur yang ngajarin kami tidak bilang ski itu mudah, bilang kesulitan-kesulitannya dan hal-hal mengerikan dari permainan ski. Jadi ekspetasi kami udah siap dengan segala kesulitan yang menghadang. Aku jadi ingat, aku sempat diteriakin waktu gagal rem, "kakinya kuda-kuda, pegel gapapa, kalau pegel berarti bener" sampai akhirnya aku berhasil berhenti. Ya memang susah sih, tapi menyenangkan, dan membuat aku senang saja saja kalau dia akan selalu masuk list di daftar liburan musim dingin aku kedepannya.

Besoknya aku tidak sanggup bangkit dari tempat tidur karena sakit dari leher sampai ujung kaki. Kamar kosong, aku tidak bisa gerak sama sekali ini mah asli. Ini pasti efek lupa sayang diri sendiri, jatuh guling-guling sesuka hati.

(Aku bisa gerak lagi setelah aku berusaha meraih balsem Vics dari atas laci di sebelah kasur dan mengoleskannya sekujur tubuh. Luar biasa.)

Sorenya waktu kebetulan bertemu, Bang Hanif berkabar kalau Erciyes tutup karena badai. Jadi kami main tepat sehari sebelum badai. Hmm ... kalau memang sudah takdirnya, tidak akan meleset sih.


Not :
Kurs TRY-IDR per aku nulis pos ini, 1 TL = Rp.2,678.31

-Ditulis dalam perjalanan berlibur di destinasi selanjutnya, Kayseri - İstanbul. Bismillah :)

[Cerita Pendek] Dulur Opat Kalima Pancer


“Hei Paketu,” sebuah suara terdengar menyapaku sebelum kakiku keluar dari parkiran motor dekat sekolah. Kemudian sebuah tangan melingkar di bahuku.
“Hei Farhan,” aku menghela nafas panjang, langsung mengenalinya sebagai anak lelaki hyper-aktif teman sekelasku. “Kenapa sih kamu suka manggil aku Paketu?” Paketu adalah sebutan singkat khasnya untuk kata ‘Pak Ketua’.
“Aku tahu kamu akan menjadi kandidat calon ketua OSIS yang paling berpengaruh tahun ini, setelah berhasil menjadi ketua kelas XI IPA 6. Maka masa pemerintahan ketua OSIS-mu tahun depan bakal jadi yang paling berpengaruh selama sekolah kita dibangun, Rey.”
Aku menatapnya datar. “Aamiin.”
“Assalamu’alaikum,” ucapku begitu memasuki pintu kelas. Jawaban salam menyahut pelan dari berbagai penjuru.
Aku memilih duduk di baris pertama, bersebelahan dengan Farhan. Kemudian mataku menatap berkeliling, seperti terhipnotis, Mencari kepala dengan kain batik khas sunda yang terikat, totopong.
Namanya Agus. Aku tahu nama Agus akan terdengar aneh untuk remaja yang mencari jati dirinya di abad millenium. Dia pindahan dari Tasik dan gosipnya dia warga turunan Kampung Naga[1]. Bahasa dan logatnya Sunda, tapi dia lancar menggunakan bahasa Indonesia. Kepribadiannya ramah dan ceria. Wajahnya oval, tubuhnya kurus, namun tinggi tegap dengan kulit kecoklatan. Rambutnya lurus berponi, setidaknya itu yang aku lihat ketika ia membuka ikat kepalanya saat hendak shalat.
Yang paling menarik perhatian sejak dia jadi murid baru di kelasku tentu totopong-nya. Mungkin tidak akan terlihat aneh jika dia tinggal di Bandung—karena mereka punya program pemerintah dimana siswa sekolah memakai ikat kepala seperti itu. Tapi itu terlalu mencolok di Cimahi, meski hanya berjarak sekitar 12 kilometer dari jantung kota Bandung namun terkadang kami merasa terlalu jauh dari kebudayaan sunda kami sendiri. Kami menggunkan Bahasa Indonesia dengan campuran Bahasa Sunda ringan sehari-hari, tapi terkadang merasa payah di pelajaran ‘bahasa ibu’ kami sendiri.
Aku sendiri sebenarnya tidak keberatan dengan totopong Agus. Tapi pro-kontra para guru dan teman-teman membuatku ikut tidak nyaman, meski Agus sepertinya tidak peduli dengan komentar-komentar di sekitarnya. Kadang aku ingin memintanya untuk melepas totopong­-nya. Kupikir tidak akan menyenangkan jika orang-orang menganggap kita aneh karena berbeda.
“Agus tidak aneh, Reyhan” Farhan membuatku tersadar dari lamunanku. “Kunaon atuh mikikrkeun Agus wae? (Kenapa mikrin Agus terus?)”
Aku menatap lawan bicaraku nanar. Entah mengapa ia bisa membaca pikiranku. “Yeah, dia tidak aneh. Hanya berbeda, dan setiap yang berbeda akan dipandang aneh, Far.”
“Tidak, dia manis,” Sarah, gadis yang duduk di belakangku ikut mengomentari pendek. Ikut memerhatikan Agus yang asik berbincang dengan kawan-kawan kelasku di belakang kelas.
Farhan membelalak. “Sungguh?”
Sarah tertawa keras, tapi tetap tertutupi oleh ramainya kelas di pagi hari. “Tanya saja anak perempuan sekelas, mereka akan sependapat. Cowok banget. Rambutnya kece banget kalau lepas ikat kepalanya. Tapi mungkin dia terlalu ... kampungan?”
Tong sok balaga kitu atuh, Neng[2] (Jangan suka belagu gitu, Neng),” aku mencibir tidak suka. “Ari anjeun tiasa teu nyarios Sunda siga Agus? (Memangnya kamu bisa ga bicara Sunda seperti Agus?)”
Sarah tertawa. “Hereuy atuh, guys! Kalem we ... (Bercanda kok, guys! Santai saja ...)”
Entahlah, tapi kalimat Sarah tadi membuatku ingin Agus sedikit berubah. Karena aku tahu, ini bukan perbincangan pertama tentang Agus.
***
“Far, mau pulang kapan?” aku menegurnya yang masih mencatat. Tas sudah aku sampirkan di bahuku dan jaket kuning-hitam di tangan, bersiap pulang.
Kalem,” Farhan cepat memasukan buku Kimia ke dalam tas. “Yuk, sekarang.”
Kami berdua berjalan keluar kelas. “Kamu inget kalimat Sarah tadi pagi?”
“Yang tentang Agus?”
Aku mengangguk. “Aku ingin dia agak sedikit ... berubah.”
“Kau merasa kasihan kepadanya?”
“Mungkin,” aku angkat bahu. “Setidaknya totopong nya, dia jadi terlihat berbeda dengan kita—seperti membedakan diri. Kalau bahasanya sih tidak masalah. Toh, kita juga kalau bicara sering bercampur sunda-indo kan?”
“Ya, mungkin benar. Totopong. Mungkin kamu bisa bicara langsung dengannya, sebagai ketua kelas yang baik.”
Kring! Kring!
Sebuah sepeda menghampiri kami. Di atasnya seorang lelaki dengan totopong tersenyum manis ke arah kami. “Assalamu’alaikum” Kami kompak menjawab salam disertai sebuah senyuman. “Lagi ngomongin totopong abdi nya? Kadengeran ku abdi hayoh. Tapi Cuma kedengaran kata ‘totopong’ nya aja.”
“Eh, punten,” ujarku salah tingkah “Abdi mah ... Hanya tertarik, Gus,” aku menyeringai sok lucu. Mengutuk sunda aktifku yang pas-pasan.
“Iya, Reyhan teh tertarik Gus. Katanya, dia mau banyak tanya tentang iket kepala yang kamu pakai. Sambil main katanya boleh tuh.”
 “Oh mau sekalian main juga? Hayulah!”
Aku menatap Farhan tak paham, apa isi kepalanya saat ini? “Gus, tapi da sebenernya mah, Farhan juga ingin ikut. Kata Farhan, dia ingin main ke Curug[3] Cimahi. Sabtu ini ya, Far?”
Aya geuning? (Ada ternyata?)”
Farhan melongo. “Apa sih kamu, Rey?”
“Malu-malu memang anaknya teh Farhan mah. Yaudah ya Gus. Kita pulang dulu. Nanti Sabtu kamu dibonceng Farhan kok. Assalamu’alaikum,” kami beranjak pergi meninggalkan Agus, menuju ke arah parkiran motor.
“Wa’alaikum salam,” Agus kembali mengendarai sepedahnya.
Aku dan Farhan saling tatap, lalu tertawa tanpa aba-aba.
“Aku gagal paham. Kenapa kamu tiba-tiba minta ke Curug Cimahi?”
Aku nyengir. “Kenapa kamu minta main? Biar satu sama atuh. Lagipula seumur-umur aku tinggal di Cimahi ga pernah ke sana juga.”
***
Hari ini hari Sabtu. Siang ini matahari bersinar terik. Aku belum berani mengatakan tujuanku yang sebenarnya pada Agus. Farhan nampak cuek tidak peduli. Agus sendiri masih menikmati pemandangan di kawasan curug.
“Masih jauh, Far?”
“Suara air sudah terdengar kok, kawan. Kau lelah?”
Lalu sampailah kami pada ketinggian sekian dimana curug bisa kami lihat dengan jelas dari atas. Sungai mengalir tidak begitu deras.
“Akhirnyaaa,” Farhan berjalan turun perlahan menuju sungai.
“Shalat yuk, udah dzuhur!” kata Agus mengingatkan.
Farhan mengecek jam tangannya. “Ya ampun, sudah jam 1”
“Ya,” Aku tidak begitu memerhatikan kalimat Agus. Setelah mengambil duduk di salah satu bebatuan yang paling besar, aku menatap aliran sungai yang mengalir tenang. Aku masih berpikir bagaimana aku bilang keadaan yang sesungguhnya tanpa menyakiti perasaannya. Apa aku harus bilang kalimat Sarah waktu itu? Tapi bagaimana caranya? Ah, bukankah Agus memang tidak peduli kalimat orang-orang? Apa aku bisa memintanya untuk tidak memakai totopong-nya setiap hari? Tapi aku sadar kalau Agus memang tidak salah, dia tidak perlu berubah. Mungkin aku bisa sedikit bercerita tentang keadaan sebenarnya dan terserah Agus bagaimana selanjutnya.
“Gus sebenarnya ..,” sebelum aku menyelesaikan kalimatku. Farhan menyenggolku, kemudian memberikan isyarat mata. Aku menoleh, dan sebuah pemandangan “asing” membuatku terdiam.
Kunaon, Bro?” Agus menyeringai lucu menatapku yang melongo.
Totopong­ di kepala Agus kini telah berubah fungsi. Kain satu meter persegi itu kini dijadikan alas untuk shalat. Aku bahkan tidak punya persiapan untuk shalat di saat terdesak seperti ini. Aku terpukau dengan caranya menjaga shalat. Mendadak aku seperti tidak ada apa-apanya.
“Tadi mau ngomong apa, Rey?”
Aku tersenyum canggung, mengurungkan niatku. “Gak jadi Gus.”
Agus balas tersenyum santai. “Aku shalat dulu ya.”
Aku terdiam sambil menunggu Agus selesai shalat. Banyak pertanyaan yang berseliweran dalam pikiranku. Hingga pada salamnya, akhirnya beranjak bangun dan duduk di samping Agus. “Apa arti totopong buat kamu, Gus?”
“Nasihat yang selalu mengingatkanku,” ujarnya mantap. Dia menatap kainnya yang terbentang di atas bebatuan. “Sebut dia dulur opat kalima pancer.”
Eta teh naon, Gus?
Dulur opat itu berarti empat kekuatan inti. Api, air, tanah, udara. Kalima pancer punya arti terpusat pada diri kita dan terpancar kepada Tuhan alam semesta. Jadi ini melambangkan sifat-sifat dasar manusia—seperti api melambangkan amarah, maka air menyejukannya. Ini erat hubungannya dengan keimanan manusia”
Kemudian tangan Agus melipat kainnya menjadi segitiga. “Ini Tritangtu. Hubungan kita dengan Allah, dengan manusia, dan dengan alam di sekitar kita.”
Lalu dia melipat kain segitiga itu lima kali. “Di lipatan iket Buhun—ikat gaya Sunda lama, arti 5 lipatan ini menunjukan rukun islam.”
Aku menelan ludah. Dalam sekali filosofi yang ditawarkan Agus dalam secarik kain yang ia pakai di kepala.
“Ini nasihat dari kakek aku. Beliau salah satu tokoh penting di Kampung Naga. Aku juga awalnya tidak begitu peduli dengan kain totopong. Tapi ketika kita memakainya, maka akan ada yang menasihati kita tentang siapa diri kita. Hanya makhluk Tuhan. Terlebih lagi, karena kita ini masyarakat Sunda. Gitu aja sih aku mah.
Urang hirup di jaman millenium—dimana para remajanya lebih senang bicara kawaii dibanding campernik ketika melihat sesuatu yang imut. Maka harus ada seseorang yang melanjutkan budaya dan adat kita”
Aku tertegun, Agus bisa paham istilah kawaii yang biasa diapakai anak-anak otaku[4].
“Kamu tidak merasa terlalu berbeda, Gus?”
“Tidak ah. Cimahi kan daerah Sunda juga. Kalau aku pakai totopong di daerah jawa tengah, baru aku merasa berbeda.”
Aku mengangguk paham, kembali berpikir tentang kota yang membesarkanku. Bukan soal sebutan cyber city­-nya yang jadi masalah. Tapi sebutan kota ‘game online’, mungkin menerima kenyataan bahwa saingan kue cubit dan capuchino cincau di kota kecil kami adalah warnet—karena ketiganya banyak sekali. Seperti terjajah barat, tapi begitulah kenyataannya. Bahkan saat istirahat dan jam kosong, kami senang tanding game online lewat gadget atau laptop kami masing-masing. Agus sendiri biasanya hanya menoton kami bermain. Kami memang terlalu jauh dari budaya kami sendiri.
Pola pikir Agus tidak ketinggalan zaman, aku sadar. Bahkan kami lah yang seharusnya merasa aneh dengan pemikiran kami sendiri. Totopong bukan sekedar pakaian adat, tapi juga budaya yang harus dilestarikan. Aku pikir Agus bukan tidak bisa berubah, dia bisa berubah mengikuti gaya kami yang kebarat-baratan. Tapi dia memilih tidak. Dan jika tidak ada remaja seperti Agus, maka siapa yang akan melestarikan budaya kita?
Aku tahu sebuah cara agar Agus tidak dibilang Aneh lagi, setidaknya membuat dia tidak terlalu mencolok dengan perbedaannya. “Abdi oge bade make totopong ah, Gus (Aku juga ingin pakai totopong ah, Gus). ”
“Ciye, Reyhan. Kayaknya nanti di salah satu rencana program kerja ketua OSIS-nya, ada yang akan membuat peraturan murid lelaki memakai totopong satu hari dalam seminggu nih,” celetuk Farhan asal.
Aku menyeringai, “Kamu kalau ngomong jangan aneh-aneh deh!”
Tapi mungkin kali ini dia benar.[]

Cimahi, 23 Juli 2015


[1] Kampung Naga: nama kampung yang masih memegang teguh adat karuhun (leluhur)  Sunda di daerah Tasik
[2] Neng (Eneng) : panggilan untuk gadis Sunda
[3] Curug : Air Terjun
[4] Otaku : istilah Jepang untuk seseorang yang menekuni sauatu hal. Otaku disini berarti penggila manga dan anime.

Sosialisasi Pemilu Versi KBRI Ankara X PPI Kayseri


Pada 29 September lalu, beberapa staff KBBI Ankara sengaja berkunjung ke Kayseri untuk melakukan sosialisasi berkaitan dengan pemilu 2019 nanti. Sebelumnya aku memang sudah pernah ikut nyoblos waktu pilkada Cimahi 2017, tapi gimana jadinya ya kalau pengalaman pertamaku memilih orang nomor satu di RI tanpa meraskan ramainya kampanye?

Hari itu hari Sabtu, kami diundang makan-makan di restoran Maide Pide yang berlokasi di pusat kota pada pukul 13:00 waktu setempat. Dua hari sebelumnya kami diberi pilihan menu makan siang sebagai bentuk konfirmasi kehadiran. Ada Adana kebab, tavuk şiş, ızgara köfte, dan kanat. Aku pribadi (sebagai penggemar köfte garis keras) memilih menu ızgara köfte. Ngundang anak rantau gampang ya, ajak aja makan makanan lumayan mewah. Terbukti, hampir seluruh warga PPI Kayseri hadir di undangan KBRI ini. Belinya pakai uang negara tuh hehehe.


Karena undangan ini langsung dari KBRI, kami diminta untuk memakai pakaian batik. Waktu itu aku lagi nginap di rumah kawan dan kabar harus pakai baju batik datang mendadak, jadi aku hadir dengan baju biasa.

Acara sosialisasi dimulai jam satu lewat. Sosialisasi ini ga berbeda jauh dengan yang ada di Indonesia. Seperti halnya syarat-syarat pemilih, siapa yang berhak dipilih, pengenalan surat suara, dan metode pencoblosan itu sendiri. Tapi karena kami berada di luar Indonesia, ada beberapa perbedaan terjadi. Kami hanya bisa memilih presiden dan wakilnya, dan DPR RI (DKI Jakarta Dapil II). Tidak ada pemilihan DPRD sebagaimana lumrahnya.


Sebenarnya untuk metode pemilihan luar negeri ada beberapa jenis. Yang pertama ada Tempat Pemungutan Suara Luar Negeri (TPSLN) yang berada di Ankara. Secara umum akan sama dengan TPS di Indonesia. Taoi karena kami jauh dari Ankara, metode ini tidak memungkinkan sehingga metode kedua yang akan kami pakai, yakni melalui POS.

Agak menarik metode POS ini, karena surat suara akan dikirim langsung dari Ankara ke alamat rumah kami masing-masing, sebelum kemudian masuk kotak suara dan dikirim kembali ke Ankara. Sedih ya ga bisa nyelupin kelingking ke tinta. Dan karena POS cukup memakan waktu, maka untuk pemilu di Turki diadakan pada 13 April 2019, lebih cepat dari normalnya di Indonesia yang dilaksanakan 17 April 2019. Sehingga nanti suara bisa dihitung tepat waktu di Ankara.


Yang terakhir ada metode Kotak Suara Keliling (KSK), ini dikhususkan kepada para TKI yang tidak bisa keluar dari tempatnya bekerja sehingga kotaknya yang akan berkeliling ke tempat kerja mereka. Tapi mahasiswa mana yang kerjanya begini. Hmm ...

Ada juga sosialisasi tentang jadwal kampanye dan hari tenang. Tapi tapi tapi, kampanye hanya diizinkan di Indonesia. Tidak diperbolehkan WNI di luar negeri untuk berkampanye di negara tempat tinggal mereka. Tapi ini bukan berarti media sosial dilarang kan ya? #eh

Untuk pengecekan data KPU Pusat, kita bisa mengeceknya di sidalih3.kpu.go.id. Namaku tercantum di situ (karena pernah ikut milih) yang berarti aku perlu meminta bantuan orang rumah buat minta A5 sebagai pernyataan perubahan domisili pemilih. Rantau kadang ribet yak.

Terakhir, sebelum penutupan acara dan mulai makan-makan, kami diingatkan bahwa golput bukanlah pilihan. Uwuuuu ... Masa depan bangsa kita ada di tangan kita sendiri guys.

Waktu makanan datang, aku asalnya cuma minta su (air) aja untuk minumannya. Tapi setelah aku buka minumnya, aku khilaf pesen açık ayran. Dia ini semacam ayran (yoghurt asin) tapi açık (terbuka, yang berarti bukan minuman kemasan). Makanya dia agak berbusa(?). Gakuat liat yang lain pesen açık ayran, the best emang kalau udah bertemu dengan daging. Apalagi kalau dingin. Duhai...

Sayangku
Kalau makanannya, ızgara köfte (yang notabene daging dipanggang) emang ga bisa membohongi lidahku sih. Emang dari sananya enak. Ya kapan lagi kan kami-kami ini bisa makan seenak itu di akhir bulan?

Aku senang sih ikut acara beginian, mungkin emang naluri bawaan antusias sama acara-acara kenegaraan, biar bisa ditulis kayak gini. Aplagi kalau udah berkaitan sama Pemilu wkwk. Terimakasih banyak KBRI Ankara :)

Kisah Gadis Jeruk dan Lelaki Berjaket Jingga


Pernahkah kau jatuh cinta pada seseorang sejak pertama kali melihatnya?

Gadis Kecil pernah. Sangat pernah.

Alkisah, anak lelaki itu Gadis Kecil temui di hari pertamanya sekolah tingkat menengah awal. Cowok itu tidak tampan seperti yang kau bayangkan. Tidak tinggi-ganteng-tajir-memesona. Sama sekali tidak. Menurut cerita, ia hanya nampak berbeda dan menarik. Atau jika kita mengikuti istilah si Gadis Kecil kita ini, kita bisa menyebutnya ... manis. Sebegitu sukanya gadis ini dengan lelaki itu hingga ia membuat sebuah panggilan rahasia yang sangat sangat menggelikan; Pangeran. Aku bisa membayangkan dia tertawa ketika membaca tulisanku ini.

Aku tidak tau apa yang membuat gadis kecil ini begitu tergila-gila pada Pangeran. Aku pikir anak laki-laki itu biasa saja, banyak yang jauh lebih menarik. Tapi aku akan coba mengingat deskripsi yang ia ceritakan padaku. Aku agak sedkit lupa, tapi semoga aku tidak terlalu melebih-lebihkannya.

Laki-laki itu selalu datang sangat pagi dengan menenteng jaket. Biru. Biru lacivert. Gadis Kecil hafal semua warna jaket yang pernah Pangeran pakai ke sekolah. Tapi kalau aku tidak salah ingat, yang pertama kali dipakai warnanya biru dongker. Dia selalu memakai jam tangan warna hitam di tangan kiri. Kadangkala, jika memakai baju lengan panjang, ia akan menggulung lengan bajunya hingga siku. Tubuhnya tidak kurus tapi sama sekali tidak berisi. Kulitnya tidak bisa dibilang gelap dan matanya tak bisa dibilang besar. Gamers kelas menengah ke atas. Kalau beli makanan di kantin sukanya makanan berat. Senyumnya manis dan sangat manis--maaf jika aku tidak pandai mendeskripsikan seseorang dengan baik.

Di kelas, Pangeran tidak nampak mengagumkan, tapi ia sangat suka olahraga dan seni. Dia bisa bermain musik dan menggambar dengan baik, bermain basket di sore hari tertentu atau pagi di hari Sabtu. Juga beberapa kali Gadis Kecil mengamatinya di pertandingan futsal antar-kelas. Oh ya, bidang komputer juga salah satu andalannya. Tapi seingatku, Pangeran ini pandai di bidang fisika-matematika. Hmm ... Nampaknya Pangeran adalah tipe-tipe cowok multitalenta. Entahlah, aku tak pernah mengenalnya langsung. Yang aku tau, Gadis Kecil hampir selalu iri pada Pangeran. Dan dia tahu, Pangeran hampir selalu iri dengan cowok-cowok keren di sekelilingnya.

Gadis Kecil kita ini harus mendapatkan apa yang ia inginkan. Termasuk mendekati seorang pangeran. "Aku harus menjadi seorang puteri jika ingin mendapatkan pangeran," katanya padaku suatu waktu. Dan itu menjadi kutipan edan andalannya.  Seandainya aku bisa bertemu dia sekarang, aku ingin bilang bahwa dia memang seorang puteri, bahkan meski tanpa Pangeran.

Kedekatan mereka tidak lebih daripada 2 semester pertama. Aku tahu Gadis Kecil sangat suka membuat kebodohan dan aku seringkali tidak suka pada sifat kekanak-kanakannya. Aku tidak akan membahasanya mengapa mereka hanya bertahan selama itu. Karena setelah bercerita kepadaku, dia memohon dan menyuruhku berjanji untuk melupakan seluruh cerita menyebalkan ini, dan aku menepati janjiku.

Tapi aku akan bercerita satu hal menarik.

Suatu hari, ketika Gadis Kecil kita memutuskan untuk tak lagi bicara dengan pujaan hatinya, Pangeran memilih jaket berwarna jingga ke sekolah. Jaketnya tidak spesial, bahannya agak menggembung dan ia resletingkan hingga leher. Tapi sangat mencolok ketika harus berjalan di antara kawan-kawannya yang berjaket monokrom. Hingga satu minggu setelah hari itu, Gadis Kecil kita yang kadang menyebalkan ini tidak berhenti membicarakan betapa lucu jaket (dan pemilik)nya kepadaku dan seluruh sahabatnya.

Pada dasarnya, Gadis Kecil memang menyukai jeruk, sama sepertiku. Tapi setelah hari itu, tiba-tiba seluruh hidupnya berubah menjadi jingga. Jingga mendominasi alam bawah sadar yang ia miliki sehingga membuat otaknya kebingungan apa bedanya jaket berwarna jingga dan jeruk berwarna jingga. Secara tiba-tiba dia tergila-gila pada jeruk dan aku mulai memanggilnya Gadis Jeruk--begitulah ia mendapat julukan itu.

Kami mendengarkan semua perasaannya kepada pangeran dan jeruk baik-baik, meski jujur saja aku agak sedikit bosan. Dia memang selalu seperti itu meski seringkali dia berkata pada kami dia telah berhasil melupakan Pangeran. Dan satu hal yang aku pikir dia pasti malu sekali kalau mengenangnya sekarang adalah, begitu banyaknya puisi dan surat yang ia tulis (namun tak tersampaiakan) untuk Pangeran.

"Aku tak bisa membayangkan ada hari ketika aku bisa melupakannya, Zah," keluhnya waktu itu, untuk yang kesekian kali. Aku tau dia telah berusaha keras melupakan cowok itu.

"Tenang saja, pasti hari itu akan datang."

"Membayangkannya saja aku t-a-k b-i-s-a"

"Kau tak perlu melupakannya," aku meyakinkan. "Kau hanya perlu mengikhlaskannya. Cukup." Dan setelah pembicaraan itu, aku bisa melihat ada senyum tipis penuh harap.

Hari ini, kurang lebih 3 tahun berlalu setelah perjumpaan terakhir, pertemuan yang membuat mereka hanya saling melempar pandang 2 detik sebelum orang-orang ramai lintas diantara kedua pandangannya dan Gadis Kecilku merasakan jantungnya berdegup cepat. Di tahun yang sama, perasaan dan kenangan Gadis Kecil tentang Pangeran telah diputuskan usai. Tamat. Lelaki Berjaket Jingga telah menjelma menjadi kisah yang aku tulis dan aku bagikan padamu, juga hari ini.

Seiring berjalannya waktu, Gadis Jeruk sadar bahwa perasaan kepada yang bukan haknya tidak sepatutnya diagungkan. Ada batas-batas yang perlu dihitung di hati setiap manusia. Setelah suatu Desember mengalami patah hati dengan cowok lainnya, dia jauh jadi pribadi yang lebih baik.

"Ada suatu hal menarik dari kisah aku dan Pangeran," katanya. "Yaitu perasaanku yang begitu besar."

"Maksudmu?"

"Aku pikir hal paling menarik bukan betapa kerennya dia, karena masih banyak cowok yang lebih keren," dia tertawa keras. "Yang menarik adalah betapa besarnya perasaanku waktu itu. Aku belajar banyak. Termasuk aku telah menemukan hari dimana aku tidak lagi memendam rasa kepadanya. Maka, ketika aku jatuh cinta lagi pada makhluk-Nya, aku tau aku pasti bisa mengikhlaskan perasaan yang bukan sepatutnya milikku."

Aku diam.

Gadis Kecil menghela napas begitu panjang. "Jatuh cinta tidak pada tempatnya seringkali berakhir dengan patah hati, Zah"

Aku ikut menghela napas sebelum memutuskan memberikan senyum terbaikku untuknya. "Aku bangga kau belajar."

Tapi aku tau, jingga tak akan pernah selesai di hidupnya. Gadis Jeruk kita tetap suka jeruk. Dia juga tetap suka jingga. Jingga yang sama dengan sore masa itu--dimana ia menghabiskan waktunya mengamati Lelaki Jingga-nya bermain basket sepulang sekolah.



Dan kau harus tahu, Pangeran. Gadis Jeruk-ku tak pernah menyesali perkenalannya denganmu. Tidak pernah.

src : deviantart.com icecube13



- Qatar Airways penerbangan QR959. Dalam perjalanan dari Jakarta menuju Doha. September, 2018.