19 Agustus 2017

[Review] Ballerina (2016), Menari di Atas Ambisi #AsalAsalanReview

Liburan itu dekat kaitannya dengan menyibukkan diri, berusaha untuk produktif, meski seringkali salah sih. Ada aja yang ngakunya mau buat novel tapi kerjanya tiap hari jalan-jalan dan nonton film. Ya gitu.

Oke, jadi aku kangen buat review film dan film yang akan aku review kali ini adalah film animasi Prancis-Kanada berbahasa Inggris, Ballerina (2016) atau lebih dikenal di United States sebagai Leap!

Aku ini penggemar film animasi kelas parah. Aku tau usiaku setua itu, tapi bagiku animasi adalah perpaduan paling sempurna antara gambar, alur cerita, dan teknologi. Tiga hal yang selalu jadi bagian dalam hidup aku. Biasanya aku nonton animasi paling Amerika atau Jepang sih, di luar itu kadang ga begitu tertarik karena aku selalu membayangkan bahasanya akan aneh di telinga aku (meski banyak juga yang bagus). 

Tapi untuk kali ini, aku tertarik dengan Ballerina karena gambarnya yang oh-my-God, bagus banget. Jatuh cinta di pandangan pertama itu ada ternyata. Meski di IMDb ratingnya hanya 6.8, aku tetap tertarik. Karena memang tidak banyak film animasi yang bisa mencapai rating 8. Dari rating IMDb dan pengamatanku untuk rating film animasi di IMDb selama ini, aku punya kesimpulan kalau ceritanya bakal biasa aja.


Film berdurasi 90 menit ini bercerita tentang Paris pada tahun 1884. Cerita diperankan dengan karakter dua sahabat di sebuah panti asuhan, Felicie Miliner (Elle Fanning), gadis hiper-aktif berumur 11 tahun yang sangat mencintai menari dan Victor (Dane DeHaan), seorang lelaki yang selalu mengaku sebagai penemu muda, meski memang keahliannya patut diapresiasi. Mereka merasa tak akan pernah mecapai mimpi mereka kalau selamanya tinggal di panti asuhan--dan mungkin memang begitu. Di panti asuhan mereka dipaksa untuk membunuh mimpi mereka. Karena mimpi digambarkan hanyalah sebuah mimpi dan kenyataan hidup itu kejam.

Setelah Victor berjanji untuk membawa Felicie kpada sekolah menari, Paris menjadi tujuan hidup mereka selanjutnya. Felicie ingin menjadi seorang penari opera dan Victor ingin mengembangkan penemuannya. Mereka bertaruh, siapa yang akan lebih dulu menjadikan mimpi mereka nyata.

Dengan semangat kabur yang tinggi mereka berdua berhasil menuju Paris. Victor terdampar di sebuah workshop milik Gustav Eiffel dan dengan keberaniannya, Felicie terdampar di gedung opera impiannya, Paris Opera Ballet. Penjaga menemukannya masuk tanpa izin dan menuduhnya pencuri, namun Odette (Carly Rae Jepsen), pekerja wanita cantik yang pincang--menyelamatkannya. 

Felicie "mamaksa" Odette untuk menampungnya dan berjanji membantu Odette bekerja pada seorang pemilik restoran kaya raya, Regine Le Haut. Wanita mirip nenek sihir ini memiliki seorang anak cantik bernama Camille yang penari balet, namun punya sikap menjengkelkan dan ambisi persis ibunya. Dan disinilah cerita ambisi dan beresiko Felicie dimulai ...

Secara umum, aku suka ceritanya. Aku suka Felicie yang berusaha mengendalikan "terlalu banyak energi"-nya untuk menjadi anggun dan halus. Aku suka keberanian Felicie yang terkadang bikin aku gemas sendiri. Aku juga suka persahabatan antara Felicie dan Victor. Jelas sudah siapa tokoh favoritku di film ini; Victor. Dia mungkin agak kikuk dan menyebalkan, tapi sahabat yang setia dan menyenangkan. 

Satu tokoh lagi yang mungkin membuat film Ballerina begitu lucu dan menyenangkan diputar di kepala adalah Rudi. Penari balet tampan berambut blonde yang sangat jual pesona. Saking jual pesonanya, Rudi terlihat konyol di mataku. Mungkin agak menyebalkan melihat tingkahnya, tapi dia termasuk tokoh yang bisa bikin aku tertawa selain Victor.

Dan jelas, aku sangat suka gambar animasinya, oh my God! Apalagi diiringi beberapa lagu berbahasa Inggris tentang mimpi dan menari. Rasanya Paris 1884 begitu hidup! Film ini rasa-rasanya cocok untuk siapapun yang mau mengejar mimpinya.

Ceritanya mungkin akan biasa saja. Tidak ada sesuatu yang membuat aku kaget dan berteriak "Gila! Ini film bagus banget!" Alurnya agak terburu-buru dan mudah ditebak, konfliknya pun terkesan cepat dan selesai dengan mudah. Tapi aku senang dengan usaha sang penulis dan sutradara menyisipkan pesan untuk jangan pernah menyerah soal mimpi-mimpi yang kita bangun. Seperti menara Eiffel, butuh waktu, perencanaan, dan resiko sebelum akhirnya menjadi puncak menara dan ikon keanggunan. Setiap orang punya kesempatan untuk menjadikan mimpinya menjadi nyata. 

Terimakasih telah memperkenalkan Felicie dan Victor di hidup aku :)

(all images source : google image)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar