Senin, 12 Juni 2017

7 Alasan Kenapa Kalian Harus Masuk SMAN 2 Cimahi

Hai, udah lama ga nge blog. Hari ini aku mau buat artikel ga penting. Iya ga penting.

(Tulisan ini aku buat kelas 11 dengan banyak perubahan, jadi maafkan kalau bahasanya agak beda dengan tulisan aku yang sekarang).

Nah, setelah bagi NEM dan menjelasng pembukaan PPDB, aku ingin berbagi kisah dengan adik-adikku tercinta, khususnya daerah Cimahi. Karena Cimahi itu hanya kota kecil, aku tau kalian ingin kabur ke Bandung, tapi apa daya terkadang keadaan tidak memungkinkan. Entah itu soal waktu dan uang. Atau tidak dapat izin orangtua.

Mungkin bagi aku pribadi, SMAN 2 Cimahi juga bukan sekolah impian. Aku sempat enggak mau sama sekali masuk sekolah yang katanya favorit di Cimahi ini. Impianku waktu itu sebenarnya masuk sekolah swasta, nyantren, lalu berubah jadi anak solehah, tapi memang ga ada yang tau di mana hati ini akan memuarakan harapannya. Jadi dulu aku semacam punya trauma masa lalu sama sekolah negeri, mungkin ini alasan Allah kenapa aku ada di sini, menyelesaikan problematika ketakutan berlebihan aku :')

Sebagai warga sekolah yang baik, aku ingin berbagi pengalaman 3 tahun di sini kepada kalian semua mengapa SMAN 2 Cimahi a.k.a Daci yang kadang menyebalkan ini layak diperjuangkan. Juga untuk kalian yang sudah masuk Daci, berikut adalah hal-hal yang harus coba kalian syukuri ;)

1. Ga ada salahnya.

kenapa kamu harus masuk Daci? Ga ada salahnya dong nyoba. Iya sih soal bangunan Daci ga akan seberapa dibanding SMA lain. Aku juga masuk Daci nyoba-nyoba aja kok. NEM aku pas-pasan *curhat. Sekolah yang katanya favorit ini harus dijajahi sebelum nyoba universitas favorit impian kamu!

Mungkin aja kalian beruntung masuk Daci, banyak yang ingin tapi ga bisa kan?

Kalau kalian ga mau masuk daci gara-gara "Daci mah tugasnya berat!" Hmm .. ngga juga sih, sekolah lain juga sama kok. Tapi soal deadline tugas yang emang banyak, sering mepet dan anak-anak yang gila belajar bakal ga ada apa-apanya dengan apa yang kalian hadapi di kuliah nanti. Mungkin ketika kalian dihukum ngessay sekian halaman, dikejar deadline tugas, banyak sekali ulangan, remes terus, tugas dilipatgandakan, ini akan membuat kalian lebih siap menghadapi dan bersaing di masa kuliah nanti. Ini baru Cimahi, belum Bandung. Baru SMA, belum kuliah. Perlahan-lahan belajar menghadapi dunia yang lebih luas, lebih kejam. HAHAHA.

2. Tempatnya di komplek.

Daci terletak di komplek sriwijaya, komplek tentara. Jadi ga perlu khawatir dengan suar bising kendaraan mobil atau motor beserta klakson-klakson yang bikin sakit kepala. Paling kalian harus membiasan diri dengan bising kereta. Dengan jarak sekian meter menuju rel dan 10 menit jalan kaki menuju stasiun, kereta telah menyatu dengan kehidupan Daci.

Pengalaman waktu kelas 10, aku dapet kelas yang kalau ngeliat ke jendela bisa ngeliat langsung rel kereta. Awal-awal mungkin pelajarannya jadi keganggu. Kalau kereta lewat pasti guru bakal diem dulu, karena emang ga bakal kedengeran. Tapi lama-lama hal ini jadi hal yang biasa dan malah sering jadi bahan candaan, kayak misal "ih itu masinisnya ganteng banget."

3. Banyak jajanan.

SMAN 2 Cimahi itu tetanggaan sama SMPN 3 Cimahi dan SDN Setiamanah Mandiri ... berapa? Kok aku lupa? Jajanannya banyak banget-_- Apalagi sebelahan sama Jl. Warung Contong. Yang tau jalan warung contong pasti tau betapa banyaknya makanan di sana.

Sebenarnya kantin Daci juga sudah harus diakui kalau makanannya cukup lengkap. Dari roti, gorengan, seblak, temen nasi, mie ayam, mie baso, baso tahu, cilok, sok mangga mau naon deui sok? Tapi makanan-makanan ini random adanya. Lagipula 3 tahun sekolah masbro, bosen kan jajanannya rasanya itu-itu aja? Nah, biasanya cewek-cewek hobi kuliner pas Jum'at karena pulangnya cepet. Dan kalau pulang cepet, jajanan SD yang kalian kangenin itu masih ada banget loh:)

4. Bagus secara akademik.

Bagi kalian yang bagus secara akademik, boleh banget masuk Daci. Karena Daci ini selalu bersemangat soal kompetisi akademik. Sudah menjadi hal lazim kalau sekolah ini jadi juara umum tiap OSK (Olimpiade Sains Kota) dan beberapa kali sampai di tingkat nasional. Dan bukan rahasia lagi kalau jalur SNMPTN di Daci lumayan gede dan jadi sekolah di Cimahi yang paling banyak keterima jalur undangan.

Sayangnya aku ngga ada bakat akademik. Kita mah anak nyeni bisa apa *bakar menyan

5. Ambisius

Seperti halnya sekolah-sekolah yang katanya "favorit", anak-anaknya katanya juga "pinter". Bagi kalian yang merasa lebih senang belajar di bawah tekanan, maka Daci bisa menjadi solusi. Karena anak-anaknya ambisius dan kejar-kejaran soal nilai. Kita dipaksa untuk mengatur kembali jadwal kita agar kita ga ketinggalan banyak pelajaran. Kamu pasti akan merasa kalau saingan itu dimana-mana, sampai kamu ga bisa sedikit pun berleha-leha dengan setumpuk novel, nonton drama sampai lupa waktu, atau main game kesukaan. Kadang kejar-kejaran doi juga sih, dikit. Tikungan emang tajam dan tak diduga, kawan *natap tajam.

Tapi karena aku adalah orang yang kalau di bawah tekanan malah cape ngejarnya, aku gila. Iya gila, gara-gara kamu.

Oke sip.

6. Banyak event.

Event Daci mungkin akan banyak menyita waktu dan fokus kamu, tapi acara-acara ini yang bakal kamu tunggu-tunggu (biar bebas ga belajar). Ada Perayaan Hari Besar Islam (PHBI), University Day, Bulan Bahasa, karya wisata, atau momen Daci pentas seni yang cuma ada 2 tahun sekali; GANS. belum lagi ujian akhir seni budaya yang nguji kekompakkan dan keambisiusan kelas kamu; tari, teater, vokal, pameran, atau perkusi.

Kenangannya itu loh, bikin kamu kangen Daci :)

7. DACI PUNYA HKPI

Ini sengaja aku caps lock karena ini alasan aku bahagia di Daci. Alasan aku bisa betah di sekolah sampai Maghrib cuma buat ngobrol (yang insya Allah berguna) atau mintain makan. Alasan mengapa masjid Daci, Nurul Ihsan, itu ngangenin. Karena Daci punya ekskul rohis yang keren, HKPI (Himpunan Keluarga Pelajar Islam).

Ini adalah pelarian kamu paling ampuh kalau kamu stress ngadepin permasalahan sosial dan tugas Daci. Ini adalah keluarga di mana mereka mau berbagi pundak sama kamu dalam keadaan apapun. Ini adalah keluarga di mana kamu ngupload puisi aja bisa dibully tapi ngangenin (pengalaman aku nulis puisi Patah dibully). Kita di sini sibuk dalam kebaikan, insya Allah. Sibuk jadi warga sekolah yang baik dengan mencoba gerakan anti nyontek, sibuk bikin acara keagamaan untuk sekolah dan umum, sibuk bikin kejutan untuk adik, kakak, dan guru kita, sibuk ikut kajian, dan kesibukan lainnya.

Pernah bertengkar? Jelaslah wkwk, organisasi mana sih yang ga punya beban untuk digelutin? Tapi yang jelas, kita sama-sama nyelesain dengan kepala dingin.

Kamu ga perlu takut soal "aku mah apa atuh, bukan anak alim" karena aku juga ga alim sama sekali sampai kehidupan HKPI mengubah kehidupan aku. Serius deh, Anda tidak mengenal siapa saya sebenarnya. Warga HKPI insya Allah sama-sama berorientasi pada akhirat dan saling mengingatkan kalau salah, aku sering kok ditegur.

Siapapun kamu, sejelek apapun masa lalu kamu, selama kamu memang niat, warga HKPI ga bakal peduli. Kita juga sama-sama belajar.

---------------------

Kadang, kenangan indah itu ga dateng dari hal yang besar yang jarang terjadi. Bisa jadi dari hal-hal kecil yang terjadi setiap hari. Dateng telat atau dateng kepagian (buat nyalin PR maksudnya), dimarahin guru, ekskul, modus, atau liatin doi dari jauh.

Maafin ya artikelnya agak absurd, namanya juga Zizah. Tapi percayalah, Daci akan menjadi tempat yang dirindukan setelah lulus nanti, aku baru lepas dua bulan aja kangeng :')

(Diedit setelah setahun dibiarkan nganggur begitu saja. Akhirnya rilis, alhamdulillah).

Graduation Day

Kelulusan adalah waktu yang ditunggu semua pelajar, di SD, SMP, SMA, apalagi kuliah. Rasanya tuh alhamdulillah banget, akhirnya bebas dari tugas yang berat--meski tahu di depan sana ada tugas yang jauh lebih berat.

Yep, mungkin telat banget ya aku baru nulis beginian, udah sebulan lebih merayakan kelulusan. Tapi dimaklumi lah ya, untuk mengisi liburan dan mengisi waktu Ramadhan dengan sesuatu yang bermanfaat, semoga nulis beginian termasuk bermanfaat. Untuk mengenang kan ya :/

Hari Rabu, tanggal 10 Mei 2017 lalu, SMAN 2 Cimahi merayakan kelulusannya di gedung serbaguna paling legendaris, Vidya Chandra. Iya, disebut legendaris karena bertahun-tahun selalu di situ. Awalnya, panitia perpisahan ingin cari hotel di Bandung, cuma karena ternyata ada perjanjian antar-kepsek bahwa warga Cimahi ga boleh wisudaan di luar Cimahi, maka gagallah rencana mereka. Bukannya ga mau di Vidya Chandra, cuma mahal men, masih murahan di Hotel:"

Kami disuruh kumpul jam 8. Waktu itu gerimis, dingin. Aku sebenernya persiapan di rumah Alma yang juga merangkap salon, buat dandan sendirian (gausah ditanya hasilnya) bareng Alma, Vivi, dan Dela. Aku ga bisa pake make up plis, selera nyeni lukis-wajah aku kayaknya minus sekian-sekian. Aku bahkan ga ngejepit bulu mata/?, pake maskara, celak, dan pensil alis karena gatau cara makenya. Dan mata aku minus juga, jadi ga bisa ngeliat sebelah doang. Temen-temen aku masih bisa sih, aku mah diem aja liatin cara makenya, buat ilmu pengetahuan per-make up-an.

Kami berangkat disupirin kakaknya Alma naik mobil, Kak Andri, pengantin baru yang waktu itu masih calon. Dengan semangat, cinta, dan ketabahan, kami lari-lari menuju mobil dengan wedges 8 senti dan kebaya di bawah hujan. Ga lucu aja kalau usaha satu jam lebih kami di depan cermin mengalir begitu saja bersama hujan yang jatuh ke bumi.

Gedung Vidya Chandra terletak di Sangkuriang, ga begitu jauh dari rumah Alma. Sesampainya di sana, kami ngisi daftar hadir, dan gedung masih sepi. Hujan gerimis masih ada di luar sana. Aku duduk sendirian, ngejomblo di kursi kelas XII IPA 6, Vivi dan Dela emang beda kelas, dan Alma lagi pergi ga tau kemana.

Finally, aku liat beberapa temen Mastatho'tum, geng dunia akhirat aku (baca: temen liqo HKPI), lagi ngumpul, jadi aku deketin mereka dan ngobrol. Di sana juga ada Aghis yang sekelas. Aku ngajakin Aghis buat pergi ke bangku XII IPA 6 lagi.

Kami dipenuhi kegejean karena aku ga ngerti ini rencana acaranya mau gimana, lagi pula para wisudawan (ciyee) belum pada dateng. Lalu aku bertemu keajaiban. Aku meihat bahwa keajaiban itu nyata dan datang menghampiri. Karena Hasna (yang suka aku bully di blog ini) minta banget dibully style kebayanya. Terbaik emang. Hasna yang kemana-mana selalu pake sepatu kets hitam putih, kerudung putih geblus, baju pendek dijaketin abu atau hitam, dan tas ransel, hari itu mendadak cewek banget, pangling dinda. Sampai kayaknya aku harus pindah paragraf buat ceritain dia doang:(

Dia pake kebaya merah marun dan hitam dengan motif keemasan, kerudung dimodel yang aku sendiri bingung itu gimana cara buatnya, wedges tinggi (mungkin 6 atau 7 senti), dan tas selendang merah kecil bertuliskan Bali. Anggun banget:( Dia dengan bangga ngangetin semua orang dengan style-nya yang bukan Hasna banget.

Hasna si cantik
Oke skip.

Akhirnya tamu pun berdatangan, beberapa wisudawan datang dengan orangtua mereka yang memang diundang. Para juara kelas. Kalau para cewek tampil anggun dan cantik dengan kebaya warna-warni, rambut dan kerudung dimodel sedemikian rupa, dan sepatu-sepatu tinggi. Maka para cowok tampil elegan dengan kemeja berdasi dan jas monokrom--ada juga yang biru--dengan sepatu pantofel. Aku biasanya suka banget liat cowok berjas, tapi hari itu aku biasa aja. Entahlah, lagi ga minat.

Acara dimulai dengan ditandai para wisudawan disuruh keluar, sebelum nanti disuruh masuk oleh MC. Kami keluar lewat pintu tengah dan berdesak-desakan karena kalau ke jalan ntar kehujanan. Setelah acara dimulai, kami dipanggil perkelas dan duduk berjejer dikursi yang sudah disediakan.

Setelah berdoa dan pembacaan ayat suci Al-Qur'an, acara dibuka dengan pembukaan oleh guru dan ucapan terimakasih diwakilkan oleh mantan ketua OSIS, Ikhsan. Setelah itu acara resmi yang hampir selalu ada di setiap sekolah di Jawa Barat, pengantinan.

Pengantin Tahun Ini
Pengantin tahun ini adalah peraih nilai UN tertinggi di angkatan kami, yaitu Davy dari kelas IPS, didampingi dengan seorang model cantik berkerudung yang pesona kecantikan dan kecerdasannya juga dikenal satu sekolah, Sansan, dari kelas XII IPA 5. Si Mantan Ketua Osis yang duduk ga jauh di depanku terlihat gerah liat pengantin ini, semua orang tau kalau Ikhsan punya perasaan dengan "mempelai" wanita.

Sansan anggun berjalan di sebelah Davy. Ibu mereka berdiri di belakang mengikuti. Yang mayungin (aku gatau harus manggi mereka apa) jalan terlatih mengikuti di samping kanan dan kiri. Sansan cantik? Banget! Langkahnya teratur dan anggun, senyumnya tipis tapi manis. Dan terjadilah sesuatu yang tak akan pernah dilupakan oleh siapapun di ruangan itu.

Ketika mereka berenam jalan sampai ke tengah, ketika semua mata tertuju kepada pengantin, terkunci senyum gugup Davy atau senyum manis Sansan, Ikhsan berdiri, setengah berlari lewat belakang pengantin, melewati ibunya Sansan, lalu sampai di samping Sansan, memberi mawar merah.

Gedung meriah oleh banyak seruan.

Aku cuma ketawa di antara teriakan histeris para manusia. Sansan tetep jalan dengan anggun, bahkan megang bunganya tetap dengan cara yang anggun. Aku selalu merasa gagal jadi cewek kalau liat dia:"

Setelah acara pengantin selesai. Para juara kelas datang dari belakang, menyembunyikan bunga dibalik punggung mereka untuk orangtua mereka diiringi lagu mellow Bunda-nya Melly Goeslow. Kami yang orangtuanya ga diundang sih biasa aja, masih ngobrol dengan temen kanan-kiri, cekakak-cekikik. Setelah acara pemberian bunga selesai, itu baru para wisudawan dipanggil perkelas untuk mendapatkan medali.

Kami berbaris menuju panggung, bersiap menyalami guru. Bu Sri Wahyuni, guru baik banget di mata pelajaran yang paling ga aku suka, Kimia, memberi nasihat untukku, "Semangat ya belajarnya ya Azizah ..." aku hanya tertawa mengiyakan. Mengingat aku sering mengantuk di mata pelajaran yang beliau ajarkan.

Setelah itu acara hiburan dan bebas. Semuanya berlangsung ramai dan melelahkan. Iya cape pake sendal tinggi Mas, pegal:" Banyak sekali foto diabadikan. Fotonya angkat medali semua :) Aku punya banyak "geng" di SMA. Pertama dan yang pasti adalah geng Mastatho'tum, geng kelas 11, dan geng kelas 12. Jadi fotonya juga banyak wkwk.

Temen seperjuangan kelas 12



Mastatho'tum
Tahun ini aku "agak" tobat untuk berfoto bersama cowok. Jadi aku ga sibuk minta foto ke cowok. Sebenernya, di kelas 12 ini aku punya "geng" lain bareng dua cowok. Tapi aku cuma foto sama salah satunya. Itu juga dengan perhitungan, berapa jarak yang harus kami buat. Terus bilang lupa ga foto sama temen cowok yang satu lagi di chat.

Jam 2 siang, aku baru solat dzuhur bareng Aghis dan Asmi, telat banget aku tahu. Dengan perhitungan setelah solat aku ga bakal foto-foto lagi, karena aku ngahapus make up. Acara beginian menyenangkan memang, tapi ga sedikit mudharatnya ya:"

Di mushalla aku istirahat. Cukup. Enough. Aku pegel disuruh pake wedges setinggi itu. Rasanya remuk, ingin pulang terus tidur. Aku bisa denger kalau gedung utama lagi buat kejutan untuk guru yang memang udah direncanain sejak lama, tapi kami ingin istirahat. Aku pinjem bedak + lipstick Aghis buat touch up simpel. Lalu aku dipanggil lagi buat foto-foto bareng temen kelas 11, haha sudahlah. Kapan lagi aku harus berlelah-lelah seperti ini? Pasti nanti kangen.

Selfie bersama si cantik (make up aku udah ilang)

DREI (Alma - Hasna - aku), sahabat dua tahun :)
Acara berakhir dengan pembagian booklet cantik. Bookletnya beneran cantik deh. Bagus banget. Ada stikernya juga.

Maka resmilah kami jadi almuni. Kemana kaki pegal-pegal ini akan melabuhkan mimpinya? Universitas apa? Jurusan apa? Hanya Tuhan yang tahu.
  
H-1 pengumuman SBMPTN Masya Allah^^

Begitulah cerita hari kelulusan SMA-ku. Cukup sekian dan terima jodoh :)

(Semua foto adalah milik Alma Verdiana dan yang Mastatho'tum milik Nur Rahmatan Lil 'Alamin. Aku menang maling :))

Minggu, 28 Mei 2017

"Boleh Kenalan Ga? Agama Kamu Apa?"

"Boleh Kenalan Ga? Agama Kamu Apa?"

"Agama aku Kristen. Kamu?"

"Aku Islam, kayaknya kita ga bisa temenan deh."

"Iya ya, oke"

Lalu mereka ga jadi kenalan.

....

Terbayang tidak, jika suatu hari Indonesia dilanda kekacauan dan perselisihan yang parah, sampai kalau mau kenalan, yang pertama kali ditanya itu agama atau suku, bukan lagi nama. Ini lucu, bagaimana jika Indonesia yang menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila dan berkoar soal Bhineka Tunggal Ika bisa hancur karena “Mempertuhan Ego” tiba-tiba menjadi budaya?

Berita hangat yang kemudian memanas akhir-akhir ini tentu saja soal Jakarta dan sederet opini soal kebhinekaan dan Pancasila. Tiba-tiba manusia-manusia di media sosial berbicara seolah paling benar dan saling menjatuhkan. Share banyak berita yang tidak jelas sumbernya, seolah apapun dihalalkan agar opini yang dibuat semakin kuat. Sejujurnya, aku tidak tertarik buat ikut-ikutan terlibat, lelah hati dinda, Bang. Meski kenyataannya, topik inilah yang menjadi diskusi ringan aku dan kawan-kawanku. Melibatkan diri dengan diskusi kasus seperti ini adalah naluri bagiku, panggilan jiwa.

Beberapa hari lalu, aku sempat nonton Youtube dari channel-nya Bang Reza Oktovian yang judulnya "KAMI TAK MAU DIAM." Ini pertama kali aku nonton video yang Bang Arap-nya ngobrol serius di channelnya. Awalnya aku enggan buat nonton beginian, maksudku dari kehidupan yang tiga dimensi, aku selalu punya sudut pandang yang berbeda dengan abang yang satu ini. Aku takut aku merasa malah terpojokkan dan kalah. Tapi karena aku sadar, aku ga bisa lihat kasus ini dari satu sisi saja, akhirnya aku putuskan menonton.

Kami Tak Mau Diam (source : channel Reza Oktovian)
Tiga puluh menit video ini menurutku adalah penyampaian opini dan keresahan hati. Waktu video selesai, aku hanya diam, "Oh gini ya pandangan mereka." Aku hanya mangut-mangut lalu memberi beberapa poin setuju, terutama waktu dia bilang bahwa Youtuber punya hak ngobrolin politik dan harusnya menggunakan keberpengaruhan mereka untuk tetap menjaga kesatuan NKRI. Kenapa tidak? Punya keberpengaruhan itu anugerah. Semua orang bisa punya pendapat, tapi tidak semua bisa berpengaruh.

Bicara soal bagaimana seseorang bisa berpengaruh, aku jadi ingat sebuah film Indonesia yang dikecam pemerintah. Film itu bercerita bagaiamana media dan pemerintah juga punya pengaruh yang bahkan jauh lebih besar dibanding individu. Mereka adalah dua pihak yang terlibat dalam lingkaran dipengaruhi, berpengaruh, dan saling memengaruhi. Tapi apakah memang semua pengaruh itu buruk?


Langkah Pemerintah

Pada Sabtu 20 Mei 2017 lalu, aku diberi kesempatan untuk ikut gathering Netizen Bandung Ngobrol dengan MPR RI di Hotel Novotel, Cihampelas Bandung. Meski titelnya “Netizen Bandung” Ruang voltaire lantai 3 ini dipenuhi antusiasme bukan hanya warga Bandung, tapi banyak daerah di Jawa Barat. “Empat Pilar MPR menjadi bahan sosialisasi yang MPR gencarkan ke berbagai daerah di Indonesia antara lain Yogyakarta, Solo, Makassar, dan Palembang.


Aku cukup excited, menyadari kalau yang hadir bukan hanya blogger, melainkan jurnalis kelas nasional. MPR mencoba merangkul semua kalangan, blogger fashion, kuliner, atau bahkan sepsialis curhat seperti aku. Di sini aku bisa melihat usaha MPR mencoba mencari cara untuk terus menjaga kestabilan Indonesia. Mereka semua bergerak dari bawah, berproses, dan terus melakukan perbaikan. Mencari cara bagaimana mereka bisa meng-influence masyarakat Indonesia menghadapi tantangan kebangsaan. Tiba-tiba aku merasa penting.

Meski punya judul Empat Pilar MPR, empat poin ini punya perannya masing-masing;

1.      Undang-Undang Dasar 1945 sebagai konstitusi negara.
2.      Pancasila sebagai ideologi negara,
3.      Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagia bentuk negara, dan
4.      Bhineka Tunggal Ika sebagai seomboyan negara.

Empat pilar ini adalah hal yang sebenarnya sudah membudaya, tanpa kita sadari, ini sudah menjadi bagian dari kehidupan kita selama berpuluh-puluh tahun. Jika kita bisa sadar secara sempurna siapa diri kita, lalu menamakannya dalam kehidupan sehar-hari, maka disintegrasi tak perlu ada.

Ada banyak cara menanamkan rasa cinta terhadap Empat Pilar MPR ini. Karena mungkin, ideologi adalah doktrin. Dari diskusi di Bandung yang para netizen bersama MPR ikuti, banyak sekali yang mebuat hati dan pikiran aku tercerahkan. Empat Pilar MPR ini bisa masuk lewat ragam lomba seperti menggambar dan cerdas cermat, pendidikan dan pelajaran di sekolah-sekolah formal, hingga ke komik dan film. 

 

Sebagai (terkadang) penikmat film, aku hanya bisa bilang oke untuk usul film. Film pemerintah harus bagus, harus. Aku tahu satu judul film pemerintah yang kemudian jadi bulan-bulanan masyarakat. Film adalah langkah baik jika memang bisa dikembangkan, karena film adalah salah satu media “cuci otak” dan doktrin yang tepat.

Warganet Juga Saling Memengaruhi

Selama acara berangsung, tagar #4PilarMPR kemudian menyebar, mulai dari Twitter, Facebook, hingga Instagram.

Aku nge-tweet sambil lumayan mikir. Waktu aku nge-tweet atau post story instagram aku disebar, berapa orang yang akan baca? Berapa orang yang akan tahu? Waktu aku nulis ini aku juga mikir, berapa orang yang akan terpengaruh? Aku ingin bisa paham, bahwa internet memang media beropini. Media sosial sekarang panas, saling menjatuhkan satu sama lain. Tidak sedikit yang lelah hatinya, lalu memutuskan untuk pura-pura tidak peka. Tapi itulah fungsi media sosial sesungguhnya, para netizen atau warganet ini mau tidak mau akan terus saling memberi pengaruh, baik positif ataupun negatif, setidakpeduli apapun kamu pada situasi. 

Bagiku, masalah persatuan bukan masalah yang bisa dibiarkan begitu saja dan berharap bisa selesai dengan sendirinya, pura-pura tidak tahu atau malah memang tidak tahu. Semua orang harus ikut ambil bagian. Masalah ini bukan masalah yang dikendarai politik, tapi soal harga diri bangsa. Seberapa Indonesiakah kamu? Seberapa dalamkah pemahaman kamu soal Empat Pilar MPR?

Kita sebagai warga negara merangkap warga internet, harus melek media. Harus teliti, cermat, dan ikut peduli. Media itu alat perang di zaman edan ini, dilihat dengan luasnya jangkauan media memengaruhi manusia, aku pikir pilihannya hanya ikut perang dan bermanfaat bagi orang lain atau diperdaya.

Semua orang berhak mengutarakan pendapat, memberi pengaruh positif terhadap sesama, tapi wajib menghargai pendapat. Semua orang harus bergerak, harus peduli dan terlibat. Banyak sekali cara melakukannya, bisa dengan video-video pendek, tulisan-tulisan di blog, atau celoteh kamu di media sosial. Siapapun kamu, apapun profesi kamu. Kasus kebhinekaan ini menantang kita sebenarnya, berani untuk bicara soal kejujuran diatas kepentingan dan bicara persatuan di atas perselisihan. 

Apa akan ada yang pihak yang tersakiti? Mungkin akan selalu ada. Mengutarakan pendapat adalah mempertaruhkan pemikiran hingga harga diri, tapi itulah cara kita terlibat, cara kita memengaruhi. Tapi yang paling penting adalah berani mempertanggungjawabkan karya yang sudah kita buat.

Semoga tetap nama yang ditanya kalau kenalan, bukan suku, agama, atau malah nomor sepatu. Maaf kalau lagi-lagi blog ini isinya curhat, tapi nomor sepatu aku 36 by the way. Boleh kirim kok boleh :)

Rabu, 17 Mei 2017

[Puisi] Salju

Turkey in Winter (source : skylife)
Ada luka di sejauh garis horizon yang erat memelukmu.
Mengadu intensitas dalam lanskap waktu itu.
Kita ini sekonsep niskala kah?
Kau ini hanya khayalku, apa asa itu bertebaran di langit tanpa tuju?

Maka, sia-sialah rindu kita.
Memberi aku ruang untuk berhenti percaya.
Lalu patah rantingnya, jatuh saja.
Seperti patera jingga dan September yang membuat aku jatuh cinta.

Kamu,
aku tau ini musim panas, tapi aku dijebak salju hari ini.
Hanya hari ini.

Kedinginan,
İza | 15 Mayıs '17 

Citrus 2.0

Alhamdulillah, alhamdulillah. Semua ujian kelas XII udah selesai. Mulai dari US, USBN, UN, hingga SBMPTN. Alhamdulillah ...

Hari ini, aku mau serius nge-blog lagi. Ada beberapa perubahan yang aku buat dengan blog ini. Ada beberapa postingan yang meski ga aku hapus, keberadaannya sudah ngga ada lagi karena aku kembali jadikan draft. Aku emang ga bisa lepas dari kenangan, tapi bukan berarti aku harus nunjukin semua kenangan aku ke publik kan ?:)

Ga semua sih, meski memang, masih banyak postingan ga jelas di blog ini dari tahun sekian dan sekian, menurutku ga usah aku hapus. Ini untuk menunjukkan setua apa aku blog aku sekalian liat progress menulis aku dari tahun ke tahun. Blog ini tua anget serius, aku buat ini kelas 5 SD dan sekarang aku sudah melepas titel pelajar aku menjadi camaba alias calon mahasiswa baru. Masih camaba, belum nemu jodoh:"

Jadi Alhamdulillah, ini Citrus 2.0 aku dengan segala perubahannya. Ada beberapa naskah yang aku janjiin buat post tapi ga aku post memang, maafkan Zizah:" Ada banyak alasan (selain malas) kenapa aku ga nulis blog yang aku janjiin. Kayak pameran kelas, cerpen ini-itu, dan lain-lain. Di draft aku juga ada beberapa yang aku siapin judul sih, kayak aku mau nge-review anime Your Name, tapi ga ah maafkan :')

Tapi insya Allah, setelah hari ini, aku mau rajin posting lagi, aku harap lebih rajin dari dulu. Aku harap tiponya berkuarang. Haha.

Selamat menikmati Citrus 2.0, blog camaba :)

Kamis, 05 Januari 2017

[Puisi] Kepada Senja

Untuk; senja yang berjalan mundur.
dari aku; malam yang diam di tempat.

Aku tuntut bodoh dalam setiap nelangsaku.
Bukan kamu.
Meski kamu sama saja,
Mengelabu dalam lembayung magrib,
Menanti subuh.
Dan aku?
Mungkin yang paling bodoh.
Menanti kau di antara bintang hingga aku terlalu malam menjemputmu.
Kau lelap, sampai pagi.

Selamat siang.

Lelah,
Hari 4, 17:16

Aku sakit.
Oke. Mungkin ini sakit lahir batin, tapi aku berusaha untuk ga galau. Kalau galau sakit aku lama. Jadi secara batin, aku hanya futur, melemahnya iman:'' tengkyu buat @cantikahanah yang udah koreksi ejaan aku. Terimakasih :) <3
Puisi ini didedikasikan untuk Tuan yang takkan mengerti puisi ini.

Tuan, kenapa harus pagi?
Jika malam kau bisa kembali. Pulang.