Netral

Ya siapa juga yang niat nulis tengah malem kalau bisa tidur.

Abaikan.

Yak, oke. Aku lagi tiduran di kasur pake jaket dan pake selimut. Sebenernya cuma flu tapi efeknya suka alay. Tiap flu suka ga mood ngapa-ngapain.

Sebelum dibaca, aku harap kalian bisa membuka pikiran kalian dulu. Apapun yang aku tulis disini cuma pandangan aku.

Hari ini aku mau bahas tentang pandangan aku terhadap banyak konspirasi dan kontroversi yang lumrah di internet. Pandangan aku terhadap kasus-kasus itu sendiri sih biasa saja. Aku suka hal-hal yang kontroversi. Seringkali aku netral menghadapi semuanya. Selama itu bukan tentang agama dan politik. atau terkadang terhadap sepak bola (cuma beberapa jam kecewanya, aku bisa menerima kekalahan:'v)

Anyway, aku punya pandangan tersendiri tentang politik. My dad said, "politik kalau digunakan dengan benar itu dakwah." Ada kaitannya dengan agama. Aku ga mungkin netral terhadap agama. Waktu aku kelas 10 aku pernah mencoba netral, terdoktrin, dan aku kehilangan keyakinan. Dan balikinnya butuh proses.

Balik lagi ke beberapa kasus kontroversi. Mungkin efek pernah bercita-cita jadi jurnalis, I change my point of view terhadap sesuatu. Open minded. Meski pun kalau aku berpihak pada sesuatu aku bakal egois, ga mau kalah, tapi aku bisa mencerna banyak informasi, banyak alasan. Aku bisa berubah pandangan dengan cepat.

Apa menjadi netral itu baik? Aku punya sisi buruk. Istilahnya menjadi netral itu seperti menonton kericuhan. Dan aku punya satu hobi buruk; memancing kontroversi. Istilahnya aku adalah percikan api, orang-orang membakarnya. Dan aku hanya akan menonton kebakaran dengan damai. Kalau didebat pun aku punya 2 sisi yang bisa aku jadikan argumen, karena aku ini netral.

Sebenarnya kita ga bisa atau bahkan ga boleh netral kalau dalam kasus-kasus kemanusiaan, harusnya kita berpihak pada kebenaran. Tapi pikiran aku terus berperang, ga bisa nerima sesuatu mentah-mentah. Bagi aku sendiri kebenaran itu sebuah argumen menarik. Banyak orang yang ga begitu suka dengan pemikiran aku yang kayak gini. Tapi aku ga peduli, seriously.

Waktu ada cerita orang dudukin kepala patung pahlawan, aku bersikap senetral mungkin. Bukan ga peduli, tapi kenapa kita harus marah? Kenapa kita ga liat sisi baiknya? Ini membangkitkan patriotisme anak bangsa seketika, my friend. Apa hanya satu pihak yang diizinkan untuk bersalah? Selain mungkin orangtua dan lingkungan sekitar, apakah kita sebagai penerima berita tidak merasa bersalah? Well, memangnya berapa kali kamu ngeluh di pelajaran pkn atau sejarah?

Aku jahat? Mungkin. Kalau negeri ini perlu revolusi mental, aku ga menolak kalau mungkin mental aku yang perlu direvolusi.

Contoh kasus lainnya yang lagi hits, flat earth theory. Aku udah mancing kasus ini ke beberapa sahabatku dan cukup rame juga buat dibicarakan. Sekali lagi aku netral, aku ga percaya bumi itu bulat ataupun datar.

Teori bumi datar punya alasan kuat dan masuk akal. Teori bumi bulat pun sama. Apa alasan teori kuno ini kembali hits? Mereka punya alasan, man. Dan mereka pun tahu kalau ini kontroversi, akan ada orang yang menentang mereka. Apa itu membuat mereka berpikir ulang untuk menyebarkannya? Big no hell-yea.

Setiap suatu kejadian selalu punya alasan, my man. Akan ada akibatnya juga. Dan kebanyakan sesuatu yang kontroversial itu "dirancang" bersama "apa yang akan diterima" dengan argumen kontroversi itu sendiri. Meski kadang akibatnya di luar dugaan.

It's not fair dong kalau kita melihat dari satu sisi doang? Kita ga bisa nerima satu argumen lalu membenarkannya dan mempertahankannya. Kalau argumen itu bukan kitab suci, bukan berarti argumennya adalah benar kan?

Kadang argumen juga dibuat bukan untuk kebenaran, hanya untuk tidak mengakui kekalahan. Jarang ada yang gentle ngaku kalah. Bahkan aku juga gitu. Apalagi kalau argumennya dibuat sama yang lebih muda.

Setiap kejadian itu datang bersama hikmah yang dapat dipetik. Menerima pendapat orang lain itu ga sepelik ngapalin sejarah.

Aku tidak mendoktrin sama sekali. Oke, karena kita ga perlu banyak orang netral di bumi ini. Anda bisa membayangkan kalau bumi mendadak menjadi penuh dengan manusia netral. Lalu beristilah "bodo amat" dengan kasus-kasus. Itu juga buruk, siapa yang akan membela kebenaran?

Dan di akhir, aku cuma ingin bilang, apapun pendapat kalian terhadap sesuatu, aku harap bisa disampaikan dengan sopan. Maybe haters gonna be hate, tapi bukan berarti bisa seenaknya bicara. Apalagi di internet. Aku kadang kecewa aja yang berargumen cuma kebawa emosi. Internet itu bukan tempat main-main. Kalau gitu caranya, bener kata Dedy Corbuzier; "Indonesia belum siap bersosial media."

Aku ga peduli yang baca ini dikit. Ini cuma curhat. Thanks.

ps. aku nulis ini tengah malem sampai jam 2an. Hasil uploadan pagi tadi gagal, jadi aku republish lagi.